Opinions

In this page I’ll give some opinions about current issues happening in the world or in Indonesia.

Haruskah Kami Memilih Mereka?

Saya sedikit tersentil melihat salah satu tulisan di harian Kompas hari Minggu (1/3) kemarin. Tulisan di halaman 17 dengan judul “Menyoal Tata Krama DPR” memang harus menjadi bahan renungan untuk kita semua. Saya mengutip dari alinea pertama, “… menyamakan kualitas Dirut Pertamina Karen Agustiawan denga satpam dalam rapat dengar antara…” Lalu kemudian disusul dengan komentar salah satu pembaca dalam situs Kompas, “… Maunya nyinggung orang lain tapi tidak mau disinggung…”

Sebagai seorang pemilih pemula, baru berusia 18 tahun, dan siap menyalurkan suaranya dalam pemilu bulan depan, tentu hal-hal seperti ini membuat gemas sendiri. Saya tahu mungkin tidak semua orang mau ambil pusing dengan hal seperti ini. Tapi perhatikan baik-baik omongan yang keluar dari salah satu ‘anggota dewan yang terhormat’ itu: pantaskah mereka disebut ‘terhormat’ dengan kata-kata demikian terlontar dari mulut? Maaf, saya meragukannya. Ketika saya dan banyak teman-teman saya para pemilih pemula yang akan menimbang siapa yang harus kami ambil sebagai representasi aspirasi kami. Pantaskah mereka tetap disebut sebagai ‘yang terhormat’ dengan tingkah laku seperti itu?

Hal pertama yang melintas di pikiran saya saat membaca ini adalah masalah antara salah satu grup band terkemuka Slank, tentang lagu ‘Gosip Jalanan’ yang katanya menyinggung anggota DPR. Kata-katanya memang cukup nyelekit kalau untuk membuat orang tersinggung. Tapi, lagi-lagi, kalau mau membandingkan, kata anggota DPR – yang tak mau saya sebut namanya – tentang kata-katanya terhadap Dirut Pertamina, “Bahasa yang saya gunakan itu bahasa politik… Itu bahasa yang biasa.” Baiklah! Maka kami, atau Slank, atau Slankers, atau siapapun, berhaklah menjawab, “Bahasa yang kami gunakan itu bahasa seni… Itu bahasa yang biasa.” Sama saja, kan?

Haruskah memilih?

Saya rasa, lama-lama hal-hal kecil dan simpel seperti ini akan semakin menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang ada di negara kita. Kalau melihat di beberapa situs, banyak masyarakat menyikapi hal ini sebagai ‘pertentangan anak TK’. Ya! Kami punya representasi anak TK! Mereka merasa diri sebagai ‘anggota dewan yang terhormat’, tapi mereka lupa bahwa Indonesia adalah negara berkedaulatan rakyat: kekuasaan ada di tangan kami sebagai rakyat, dan para anggota dewan harus mengakui bahwa mereka yang wajib menghormati kami sebagai penguasa sejati, betul tidak?

Malah kini rasa-rasanya sudah menjadi waktu bagi para pemilih pemula untuk masuk dalam bilangan golput. Takutkah kita semua? Ya, bahkan guru Kewarganegaraan sayapun akan memarahi saya untuk hal ini. Tapi akuilah, bahkan anak SMA pun sekarang sudah paham, apa yang baik dan apa yang buruk. Anak-anak SMA sudah paham politik sederhana. Anak-anak SMA tidak lagi pasif secara politik, tapi sudah mulai aktif. Anak-anak SMA berani mengemukakan pendapatnya untuk hal-hal politis, kepemimpinan, dan masa depan bangsa. Jika mereka yang akan menjadi representasi kami tidak mampu memperbaiki dirinya nanti, jangan harap para pemilih pemula akan menyuarakan pendapatnya lewat pemilu!

Perbaiki diri

Sebagai awam, tentu apa hak saya menguliahi para anggota dewan. Yang kami minta tentunya, sebagai anggota masyarakat adalah, bagaimana anggota dewan ini bisa memperbaiki dirinya. Kasarnya, mereka harus ngaca akan apa yang sudah mereka lakukan selama ini, dan renungkanlah sendiri apa yang harus anda lakukan sebagai representasi dari masyarakat banyak.

Maafkan saya, tapi sikap anda sebagai anggota dewan seringkali tidak bisa diterima, bahkan oleh orang yang paling goblok politik sekalipun. Sindiran salah satu anggota DPR terhadap orang lain ini tentu bukan sikap annoying yang pertama. Sudah banyak hal yang membuat orang miris: mulai dari studi banding, bertengkar seperti anak sekolah tawuran, sampai tidur di ruang sidang. Ya ampun, kami tahu kalian semua manusia. Tapi lakukanlah tugas anda sebagaimana mestinya. Jangan sebentar-sebentar memikirkan uang atau nikmat diri sendiri. Ingat, kamilah penguasa sejati. Jaga sikap anda, kalau anda tetap mau dipanggil ‘yang terhormat’. Tampilkanlah citra terbaik anda, karena kami sebagai pemilih pemula akan memikirkannya: apakah kami pantas memilih anggota dewan ini, atau bahkan berpartisipasi dalam pemilu besok.

Ingat, anda boleh “… bersuara keras demi kepentingan rakyat… (Kompas 1/1),” tapi kami sebagai masyarakat akan melihat anda terus. Bahkan kami, anak-anak SMA. Perbaikilah kinerja dan sikap anda, sehingga anda tidak perlu dikatakan anak TK, atau jatuh kredibilitasnya di hadapan para pemilih nanti.

Pada akhirnya, jangan terlalu banyak tersinggung. Seperti kata anda, kok, “Bahasa yang saya gunakan itu bahasa anak sekolah. Ini kan forum bebas untuk berbicara dan saya seorang pelajar. Itu bahasa yang biasa.” Persis seperti kata-kata anda, kan?

Matthew Hanzel

    Siswa SMA Kristen 1 Penabur Jakarta

    Kelas XII Mayor Ilmu Pengetahuan Sosial

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s




    %d bloggers like this: