Literatures

In this page I’ll provide readers one or two works of literature that I write, either poems, short stories, whatever.

Demi Sebuah Pelangi ~ Sebuah Cerpen

Aku ingin menjadi warna untuk kekasihku. Aku ingin menjadi warna yang indah bagi hidupnya, maka barulah aku ingin mengatakan aku mencintainya. Benarkah aku dapat menjadi warna itu baginya? Atau paling tidak, mencarikan sesuatu untuk mewarnai hatinya? Sesuatu yang dapat aku persembahkan, sehingga warna-warna yang manis itu dapat mencerahkan hatinya?

Sayangku telah mengatakannya. Ia ingin ketujuh warna pelangi. Warna pelangi yang benar-benar pelangi. Bukan karena aku membeli cat warna dari toko buku dan mewarnai dirinya dengan ketujuh warna pelangi. Akupun hanya dapat bertanya pada Tuhan, apa yang harus aku lakukan.

Dan Tuhan memang baik, Dia beriku ilham apa yang harus ku lakukan. Aku harus mencari, atau membuat pelangi itu. Tapi dari mana ku cari pelangi itu? Luas negeriku saja jutaan kilometer, apalagi seluruh dunia? Haruskah ku buat pelangi itu demi cintaku?

Benar kata mereka, cinta butuh pengorbanan. Ku daki gunung tertinggi, hanya untuk mencari awan-awan besar untuk membantuku membuat pelangi. Ku minta bantuan para malaikat dari surga sana untuk mengangkatku terbang tinggi ke angkasa. Aku telah melihat awan-awan besar yang siap ku gunakan. “Awan-awan, ku tahu kalian ciptaan hebat Yang Maha Kuasa, untuk memberi kehidupan bagi umat manusia. Ku mohon, biarkan aku memakai dirimu, jadi alat cintaku. Aku ingin melakukan sesuatu bagi cintaku, dan hanya dengan bantuanmu saja, oh awan, aku dapat lakukannya.” Dan tak lupa pula aku meminta restu dari Sang Khalik, “Sang punya bumi, sungguh biadablah diriku demi cintaku pada manusia pun aku melawan kodratku sebagai manusia. Berikan aku sayapmu, agar ku dapat terbang tinggi dan memberikan pelangi ini untuk kekasihku tercinta.”

Para malaikat pun mengangkat diriku, perlahan, di tengah angin yang kencang. Hampir aku terbang terbawa angin, dan tubuhku mulai terbakar seiring sinar matahari yang memasak kulit tubuhku. Awan itu bergerak perlahan, sementara tanganku mulai menyusul dan menggapainya. Betapa mengerikan di atas sana! Hanya ingin terjatuh kala ku melihat permukaan tanah, jauh sekali di bawahku. Kalau aku jatuh sekalipun, belum sempat aku menghujam tanah diriku pasti telah mati karena angin dan panas yang melandaku. Namun di kala takutku, hanya wajahnya yang terkenang. Ku ingat pesan dan permintaannya, ‘tujuh warna pelangi’. Ku harap dia tahu benar betapa cintaku padanya.

Tibalah diriku di awan besar nan gelap itu. Tanganku pun tidak mampu memegang sejumput saja ujung awan besar itu. Seorang malaikat tetap memelukku selama aku memegangnya, dan malaikat-malaikat lain mulai berkumpul di sebuah awan di seberangnya. Tuhan pun membisikkan pada diriku, “Pegang, dan tenang. Doronglah sekuat tenagamu ketika para malaikat mulai mendorong satunya. Ketika bertabrakan, biar kau lihat kuasa-Ku!”

Aku menghela napas panjang. Aku tahu, ini adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Aku dapat melakukannya, atau aku mati konyol ketika mencoba. Haruskah aku berkorban sejauh ini demi cinta? Sebuah hal yang tak terbayangkan, mengapa harus aku melakukannya demi seorang manusia yang fana? Tapi cinta memang buta, dan mau berkorban. Aku tahu ini sangat berbahaya, sangat beresiko. Namun aku mau maju demi dirinya. Aku pun berbisik dalam hati, hanya untuknya, “Sayang, belum pernah aku lakukan hal sejauh ini. Aku juga manusia fana, tapi aku mau naik ke atas langit tanpa takut, hanya untuk mendapatkan tujuh warna yang kau inginkan. Aku tahu aku mungkin tidak akan pernah kembali dalam pelukanmu. Aku tahu mungkin aku tidak akan pernah melihat wajahmu lagi karena ini. Aku tahu aku hanya sepelemparan batu jauhnya dari maut. Tapi hanya satu yang aku tahu: hanya demi cinta aku mau berkorban sejauh ini. Aku tidak tahu apa yang akan ku dapatkan. Aku tidak tahu akankah ku penuhi keinginanmu. Namun ku harap, kau tahu apa yang sedang ku lakukan. Kau tahu apa yang sedang ku pertaruhkan, dan hanya demi dirimu saja, aku akan terbang tinggi dan mencari indahnya warna itu untuk hidupmu.”

Aku pun siap. Malaikat mulai mendorong gumpalan awan di seberang sana. Dan aku pun bersiap diri. “Sang Kuasa, berikan aku kekuatan itu. Biarkan tanganku kuat bak baja, bak angin yang dapat memindahkan awan-awan ini.” Dan aku pun mulai mendorong. Yang Kuasa mengarahkan tangannya padaku, dan membantuku bergerak seiring awan itu.

Awan itu bergerak perlahan, namun pasti. Lambat, namun terarah. Dan mendadak aku mendengar suara guntur besar. Terkejut aku dibuatnya, dan tanganku terlepas dari awan itu. Malaikat segera terbang dan menggapaiku. “Tenang, Aku tak meninggalkanmu sendiri,” Sang Kuasa ternyata melihatku dan menolongku. Guntur itu mendatangkan hujan besar, hujan yang sangat besar. Aku pun dibuat menanti hingga hujan ini selesai.

***

Hujan berhenti, dan Sang Surya kembali menampakkan wajahnya. Sang Kuasa pun berkata dengan suaranya yang megah, “Ribuan tahun yang lalu aku membuat perjanjian dengan Nuh, hamba-Ku yang setia, bahwa Aku tak akan pernah mendatangkan bencana air bah seperti yang pernah dilihat dunia ini saat itu, dan pelangi yang indah inilah tandanya. Kini, Aku pun membuat perjanjian dengan dirimu, bahwa Aku akan menepati janji-Ku terhadap umat-Ku yang memohon. Ku berikan pelangi nan indah ini, dan dapat kau persembahkan hanya untuk cintamu saja.”

Tapi aku tidak sepenuhnya yakin. Akankah Sang Kuasa memberikannya semudah itu? Kalau mempertimbangkan bahwa alam raya ini adalah ciptaannya, dan pelangi hanyalah setitik dari karya terindahnya, siapakah aku sehingga dia mau memandang dan menolongku? Aku masih di atas, dan belum turun. Pelangi itu sudah muncul, tapi aku masih melayang-layang di antara awan-awan, dan malaikat masih saja memegangiku. Akankah Sang Kuasa segera memerintahkan para malaikat-Nya untuk melepaskan diriku dan membiarkan diriku mati menghujam tanah? “Sang Kuasa, tolonglah aku.”

Rasanya Dia mendengar teriakanku dan ketakutanku. Aku yang tak percaya dijatuhkannya dengan sebuah guntur. “Karena kau tidak percaya, biarkan dirimu jatuh menghujam bumi! Mengapa kau tidak percaya pada-Ku?” Dan perlahan diriku mulai melayang menjauhi awan-awan. Malaikat-malaikat-Nya terbang tinggi kembali ke Surga, sementara aku dibiarkan jatuh bebas ke permukaan tanah.

Seiring angin yang menemani jatuhku, aku memikirkan dalam hati sekali lagi, kenapa aku mau berkorban sejauh ini demi cinta. Satu sisi hatiku berpikir betapa bodohnya aku, harus ada di jurang hidup dan mati, untuk dirinya. Tapi di satu sisi lainnya, aku tahu, betapa aku mencintainya. Lagi-lagi aku ingat akan wajahnya, dan ku katakan dalam hatiku, “Sayang, aku belum pernah melangkah sejauh ini. Dan aku sadar, aku tinggal menuju kematian saja. Sesaat lagi, aku tahu aku tidak akan pernah bertemu dirimu lagi. Sayangku, aku minta maaf padamu. Aku tak dapat memenuhi keinginanmu. Maafkan aku juga untuk segala kekecewaan yang telah kau dapatkan karena diriku. Tapi ketahuilah aku menyayangimu. Ku harap Sang Kuasa mendengar teriakanku dan aku bisa pulang dengan selamat, dan membawakan apapun yang kudapat kepada cintaku, yaitu dirimu.”

Langit semakin gelap, dan diriku semakin takut. Aku segera akan menghujam bumi, dan mati begitu saja. Semua orang di seluruh penjuru bumi akan mencap aku sebagai orang bodoh. Mungkin esok hari di koran-koran besar di kota akan muncul berita besar, “Seseorang mati jatuh dari ketinggian karena mencari pelangi.” Atau aku akan segera terkenal dan dikenal dalam sebuah film berjudul ‘Pemburu Pelangi’. Aku mulai membayangkan banyak hal yang mungkin terjadi, tapi semakin ku bayangkan ku rasakan jatuhku makin cepat. Ku rasa tinggal beberapa detik lagi sebelum aku mati. Dan aku memejamkan mataku. “Sang Kuasa, ampuni aku!”

Mendadak langit yang kelam dan gelap terbuka, dan aku melihat wajah yang cukup ku kenal. Ternyata itu malaikat yang beberapa jam lalu masih memelukku dan menolongku terbang. Aku pun mendengar suara yang ku harapkan: suara Sang Kuasa, “Siapa yang percaya pada-Ku, saat ia jatuh, aku tak akan membiarkan bahkan kakinya untuk terantuk batu.”

Malaikat itu memegangi tanganku, sehingga kakiku bisa mendarat tepat di atas bumi. Sang Kuasa pun memberikan pesan, “Pergilah, larilah, kejar asamu!” Ku berlari ke arah pelangi yang indah itu. Saat itulah semua warna pelangi yang ada mencair, meleleh, dan turun ke arahku. Ku pegang busur indah itu, dan semua warna itu semakin mendekatiku. “Inilah kekuatan cinta,” kata Sang Kuasa,”bahkan pelangi pun dapat kau lelehkan.” Aku bergegas mengambil tempat yang sudah ku siapkan. Ada tujuh tempat untuk tujuh warna yang berbeda. Dalam hatiku pun aku berteriak bahagia, “Sayangku, akan ku bawakan apa yang kau minta!”

***

Buatku selesailah pencarianku untuk belahan hatiku itu. Tujuh warna pelangi yang dikehendakinya sudah ku dapatkan. Surya sudah hampir terbenam, begitu juga busur pelangi itu sudah hilang dari pandangan. Semua orang tidak ada yang merasa heran akan kehilangan busur tersebut. Aku berjalan dengan langkah yang ringan, dan bersiap untuk pulang. Di dalam tasku, ada benda berpendar, yaitu ketujuh warna itu. Aku tahu betapa Sang Kuasa telah menolongku hari ini.

Tapi lelahku tak terperi lagi. Aku pun duduk bersandar pada sebuah pohon, dan memejamkan mataku. Aku sudah lelah dan tidak tahan lagi untuk maju. Aku sudah siap membuai diriku dalam mimpi. Entah mengapa, aku merasa ini adalah salah satu tidur paling nyenyak yang pernah ku rasakan seumur hidupku. Aku benar-benar diliputi sebuah kepuasan yang sulit diukur dengan kata-kata, harta, dan materi.

Wajahnya pun datang dalam mimpiku. Aku inget diriku membacakan sebuah puisi yang ku karang hanya untuknya saat itu:

Berapa yang telah terhilang

Ku tak pernah tahu

Berapa gunung telah ku naiki

Namun hanya kekelaman yang ku temui

Sebuah cinta terlihat membawa terang

Dan runtuhkan gunung-gunung

Dan membawaku sadar akan indahnya dunia

Hidupku terasa apa artinya

Kala ku tahu dari mana cintaku ada

Hati yang telah lama tak disentuh

Merasakan indahnya setitik cahaya di tengah dunia

Dan ku tahu wajah manismu

Yang telah memancarkan gelora ke dalam kegelapan ini

Hanya untukmu

Ku daki gunung ini

Dan ku sadari arti hidupku

Karena cintamulah

Aku ada

Dan aku akan ada

Terus untuk cintamu

Aku pun berdoa di dalam mimpiku. Betapa aku bersyukur kepada Sang Kuasa, hanya karena karunia-Nya aku dapat memenuhi permintaan sayangku. Aku memikirkan lagi perjuanganku sepanjang hari ini. Dan kali ini, karunia yang terakhir ingin aku terima malam ini, adalah bertemu dirinya. Satu hari ini terasa seperti bertahun-tahun dan aku sangat merindukan dirinya untuk bersama diriku.

Saat itu aku terbangun, dan aku baru sadar, bahwa aku tidak bisa bangkit dari dudukku. Aku tidak menyangka, betapa beratnya membawa ketujuh warna pelangi itu! Aku seolah lupa, bahwa aku telah membawa di punggungku, sebuah busur perjanjian antara Sang Kuasa dengan manusia, bahwa Sang Kuasa tidak akan membinasakan umat manusia lagi! “Sang Kuasa, sekali ini tolonglah aku. Bagaimana aku mau membawa ketujuh warna ini kalau aku tidak mampu mengangkatnya?”

Ku tunggu satu menit, dua menit. Berganti satu jam, dua jam. Tidak ada jawaban. Ketujuh warna ini masih terasa sangat berat. Apadaya, ku angkut dengan kekuatanku. Satu langkah, dua langkah. Tujuh warna pelangi ini benar-benar menghancurkan diriku! Aku merasakannya, baru beberapa langkah aku berjalan, nyeri tulang punggungku sangat ku rasakan. Aku seperti ditusuk-tusuk. Tapi aku mengingat wajah dia yang sedang menantikanku di sana. Dia sedang menyambutku, dan menerima semua warna yang aku ingin persembahkan padanya.

Aku pun bangkit, dan terus berusaha untuk berjalan. Tapi aku tahu, tanganku sudah hampir putus dibuat beban ini. Sekuat apapun aku mengangkat, mungkin aku tidak akan sampai di hadapannya. Remuklah aku sesaat lagi. Belum sempat ku turuni bukit ini, pasti aku sudah hancur dibuatnya.

Saat itulah aku tahu aku sudah tidak sanggup melangkah lagi. Persis ketika aku turuni bukit itulah, aku jatuh, berguling, hingga ke kaki bukit. Ketujuh warna pelangi itu masih ada di pelukanku, dan wajahku mulai tersobek semak-semak, badanku mulai hancur karena kerikil-kerikil nan tajam. Sampai di kaki bukit, aku sudah tidak mampu bangun. Aku hanya bisa terus memeluk ketujuh warna itu, sampai berharap ada sesuatu yang dapat menyelamatkanku. Tapi tampaknya aku salah. Hujan deras turun begitu saja, tanpa memandang diriku yang sudah hancur. Aku pun berteriak pada Sang Kuasa, “Sang Kuasa, betapa kejamnya diri-Mu! Aku sudah sangat lelah dan letih, tubuhku sudah hancur dan remuk, tidakkah Kau berniat membantuku sedikit?”

Mendadak, aku mendengar suara yang sangat ku kenal, lembut tapi menyentuh. Meski mataku sudah hampir tidak mampu membuka lagi, tapi telingaku masih mendengar suara itu, sayup-sayup. Suara itu hanya berteriak, “Sayang! Sayang!” Derap kaki pun aku dengar dari kejauhan, sebuah derap kaki berlari. Suara lari itu membuatku seolah sadar akan sesuatu. “Aku kenal siapa dia!” dengan pikiran yang setengah sadar.

Mataku hampir terpejam dalam ketidaksadaran, ketika sosok yang ku dengar suaranya itu mendekatiku, dan memegang tanganku. “Sayang, ini aku!” Dalam hati aku pun berteriak. “Ini pasti kamu, sayangku!”

“Sayang, mengapa kamu bisa begini? Sakit, luka, perih sekali.”

“Sayang,” sambil ku berikan padanya ketujuh warna pelangi itu, “ini untukmu.”

“Sejauh inikah pengorbananmu? Aku tidak menyangka…,” dan ia menangis dalam haru.

“Sayang, tidak apa-apa. Dari awal aku telah memberikan diriku untuk pergi, dan mencari apa yang kau inginkan. Ku daki gunung tertinggi, ku tegakkan diriku di hadapan awan tergelap, dan kini ku berikan semua warna ini untukmu.”

Ia memelukku.

“Sayang, andai aku tahu apa yang kau lakukan. Aku hanya ingin meminta kau untuk mencintaiku. Kalau memang tujuh warna ini telah kau dapatkan untukku, biarkan ku persembahkan ketujuh warna ini untuk kita berdua. Demi cinta kita berdua, dan demi asa kita berdua, aku akan memberikan warna ini untuk kita berdua.”

Aku pun merasakan betapa indahnya malam ini. Di tengah guyuran hujan malam tak berbintang pun, dunia kita berdua terasa begitu terang. Ketujuh warna pelangi ini terus menghiasi kami berdua, dan terasalah bahwa ketujuh warna ini telah mengikat cinta kami berdua. Aku pun berdoa lagi pada Sang Kuasa, “Sang Kuasa, aku sekarang mengerti. Sebagaimana rencana-Mu terhadapku, aku tahu bahwa Kau sedang membawa sesuatu yang baik untukku. Bahkan di saat sengsaraku aku bisa membuktikan pada kekasihku betapa aku mencintainya. Dan saat itu pula Kau

mendatangkannya untukku. Terima kasih, Sang Kuasa.”

Jakarta, Maret 2008

All works of literature posted here are copyright of me as the writer. No illegal copying or reproduction permitted.

6 responses

27 02 2009
nez

unik banget c ceritanya.. mantaphh..^^

28 02 2009
Matthew Hanzel

hehe.. thanks agnes =)

28 02 2009
bonbon

zZzZzZzZzZz… x.x
sorry, i am not the type who reads something longy-story-fully-wordy-withouty-pictury… x.x

10 03 2009
tHa

zel,, gmw comment dsni,,

can’t say anything

10 03 2009
tHa

wkwkwkwk,,

zel,, uda normal ni kondisinya,, hihi

uda jernih ni pkiran,,

kalo bneran ada cowo kaya gitu di dunia ini,, maka beruntunglah cewe yang dicintai cowo itu,,hahaha

hope all people will do something like this to someone special for them,, hahaha

10 11 2009
paula

gw ampe ngs zel..><"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: