Kelompok atau bangsa?

31 03 2009

Semakin seru saja melihat kampanye terbuka partai politik pada hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini. Seru, penuh goyang dangdut, penuh janji-janji yang harum, dengan kibaran bendera parpol dan rusuh gara-gara senggolan kanan kiri. Ya, hanya sedikit warna dan bau pada kampanye ini.

Lama-lama, sedikit kurang enak juga melihat adanya partai yang mendasarkan dirinya pada politik sektarian. Di tengah bangsa yang sangat majemuk ini, rupanya masih ada saja yang lebih mementingkan kelompoknya sendiri dibandingkan kepentingan bangsa yang besar ini.

Beberapa hari yang lalu saya melihat kampanye salah satu partai berbasis kelompok tertentu yang rasanya cukup besar juga. Dalam kampanye itu, saya mendengar teriakan-teriakan yang sangat berbau sektarian sekali. Bukannya saya sensitif, tapi, hal itu menimbulkan sedikit rasa miris pada diri saya sendiri. Lagi-lagi, hal ini bukan karena sensitivitas saya, tapi memang karena adanya sesuatu penekanan identitas sektarian dalam hal ini.

Juga beberapa hari yang lalu, saya mendengar sebuah pendapat yang sangat nyata: di Indonesia konflik yang terjadi di jalanan tidak lebih disebabkan karena ras, suku bangsa, agama. Ya! Terlihat sekali bahwa bangsa Indonesia benar-benar lupa bahwa bangsanya adalah bangsa yang besar dan majemuk. Tidakkah lebih baik mementingkan dulu kepentingan bangsa yang lebih besar, dibandingkan menegakkan kepentingan kelompok yang nantinya malah menggilas kelompok yang lain?

Ayolah bangsa Indonesia! Yang kita butuhkan bukan bagaimana membuat kelompok kita tok yang berdiri tegak, tapi bagaimana membuat bangsa Indonesia bersama-sama bisa menegakkan kepalanya dan berjalan di tengah dunia, tanpa harus berkata “Aku dari golongan A”, “Gue dari suku B”, “Saya dari agama C”, atau apapun itu.





Yang benar dan yang salah

24 03 2009

SALAH ADALAH CARA, TAPI BENAR ADALAH HIMPUNAN PENYELESAIAN

Apa yang benar, dan apa yang salah. Buat filsafat, mungkin ini adalah satu hal paling mendasar dalam hidup manusia. Apa yang benar dan apa yang salah menjadi pertanyaan setiap orang, mulai dari yang paling kecil sampai paling besar, yang pintar dan kurang pintar, siapapun dia. Padahal mungkin, benar atau salah hanyalah sebuah misteri keseimbangan: tentu kita kenal dengan perkataan kalau di dunia ini selalu ada keseimbangan: baik dan buruk, benar dan salah, atas dan bawah, depan dan belakang, dan seterusnya. Ya, benar dan salah adalah sebuah misteri yang kekal, yang tidak dapat dijelaskan.

Sekarang bayangkan jika di dunia ini hanya ada “SALAH”. Bukankah yang “SALAH” itu akan menjadi “BENAR”? Karena yang benar adalah yang bisa diterima dunia, betul tidak? Toh kelihatannya kalau sudah begini benar dan salah bukan lagi menjadi sebuah kondisi, melainkan sebuah penghakiman dari umat manusia, apa yang benar dan apa yang tidak.

Salah, adalah cara; dan benar adalah himpunan penyelesaian. Saya teringat pada pelajaran matematika di sekolah. Ketika kita mengerjakan soal mengenai persamaan kuadrat, kami diminta menyelesaikan sebuah persamaan dan mencari akar-akarnya; yang nantinya akan ditulis dalam sebuah himpunan penyelesaian, misalnya: HP = {x|x = 3 V x = -3; x e R}.

Sebenarnya, ada dua cara untuk mendapatkan himpunan penyelesaian tersebut: cara yang benar, dan cara yang salah. Cara benar menghasilkan HP yang benar, memang karena nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya. Cara salah menghasilkan HP yang benar, tidak lebih dari ketidaksengajaan dan keberuntungan. Sementara cara juga kita bisa bagi dua: cara benar dan cara salah. Cara benar pada prinsipnya, akan membawa HP yang benar. Sementara, cara salah tidak akan pernah membawa pada HP yang benar, setidaknya begitu prinsipnya.

Rasanya, demikianlah benar dan salah. Benar, adalah keadaan di mana kita bisa mengerjakan sesuatu dengan benar dan tepat. Pekerjaan yang benar dan tepat akan menghasilkan hasil yang terbaik, hasil yang sempurna. Sementara Salah adalah keadaan di mana kita berhenti pada tahap cara. Cara salah, pun hasilnya salah. Sehingga ‘salah’ hanya bertahan pada cara saja, tidak akan melangkah lebih jauh dari itu.

Itulah benar dan salah, setidaknya yang mungkin muncul dalam sebuah penyelesaian persamaan kuadrat.





Pemilu Cermin Hidup Bangsa? (part one)

16 03 2009
Surat suara Pemilu 2009 (Dapil DKI Jakarta II)

Surat suara Pemilu 2009 (Dapil DKI Jakarta II)

Hari ini adalah hari dimulainya Kampanye Terbuka untuk Pemilihan Umum 2009 (tepatnya Pemilihan Anggota Legislatif untuk nanti tanggal 9 April 2009). Baru mulai satu hari, belum satu hari, tapi kekacauan rasanya sudah di hadapan mata.

Lihat di stasiun TV Metro TV. Sedang dilaksanakan ‘Deklarasi Kampanye Damai Parpol Peserta Pemilu 2009’. Ya, sebuah deklarasi, di mana para ketua partai berjanji (ketuanya, bukan partainya) untuk melaksanakan kampanye damai, santun, bermartabat, dan mengedepankan pendidikan politik – setidaknya begitu kata mereka. Baru tiga detik setelah janji itu diucapkan, kekacauan terjadi: peserta acara tersebut, sekitar 50 orang dari setiap partai, kira-kira 2.200 orang ++ yang hadir, semua maju ke depan panggung, berteriak-teriak, kacau sudah. Dan, MC-nya, Meutia Hafidz – yang merupakan news anchor Metro TV dan salah satu caleg dari partai yang lumayan besar – sudah lelah berteriak-teriak, “Ayo saudara-saudara, mari kita ciptakan kampanye yang damai, saya mohon kerja samanya,” atau, “Saudara-saudara, tolong turun dari atas panggung, silakan yang tidak berkepentingan kembali ke tempatnya.”

Ya, itulah cerminan paling jelas dari kehidupan berbangsa saat ini. Kekacauan, berantakan, seenaknya sana-sini, tanpa tahu aturan dan ketertiban. Ya, itulah cermin yang sangat jelas. Maaf, kalau ingin sedikit membandingkan, kalau lihat pemilu di negara-negara lain, di mana ketertiban adalah hal yang paling pokok, dijaga oleh aparat yang tegas, pengaturan yang jelas, bisa menghindari kekacauan yang mungkin terjadi. Ya, rasanya memang ada yang salah, sehingga kita tidak bisa belajar, atau tidak mau belajar, sesuatu yang lebih baik di pemilu ini. Padahal, dalam pemilu ini kedewasaan kita sebagai bangsa yang demokratis sedang diuji, apakah kita sudah cukup dewasa sebagai sebuah negara yang demokrasinya masih bayi. Kenyataannya, belum. Kita masih seperti anak-anak yang menggigit ‘mpeng’, masih terlalu reaktif pada situasi, masih – maaf – sedikit menggunakan pikiran dan akal sehat kita dalam berpolitik. Ya, kita belum dewasa.

Inilah satu cermin kehidupan berbangsa kita, terlihat dari pemilu yang akan segera diadakan dalam kira-kira 20 hari lagi. Kacau, dan kita belum belajar.





Waiting for iPhone

16 03 2009

Well, it’s already confirmed! Telkomsel will release iPhone for Indonesian market officially at March 20th at 8 pm, Pacific Place. The price for the 16 GBs starts from 4,5 million for the 780 thousand/month plan, up to 11 million for prepaid plain. However, I am still waiting whether they’ll sell the unlock key or I have to add another number -.-





Penjelasan Liturgi GKI

15 03 2009

Buat ujian praktek Agama nih! Buat yang mau lihat daftar Liturgi GKI ibadah Minggu, ada di bawah ini:

PENJELASAN LITURGI MINGGU  )
GEREJA KRISTEN INDONESIA

– PL    : Pemimpin Liturgi
–  J   : Jemaat

A.  JEMAAT BERHIMPUN

      (Jemaat duduk)
1.   SAAT TEDUH
(Setelah saat teduh, dibunyikan bel 3x)
Penjelasan:
Saat teduh yang kemudian ditandai dengan bel 3x dilakukan setelah dilakukan doa di konsistorium. Setelah itu barulah pendeta, penatua, dan para pemimpin liturgi menuju pintu utama untuk melaksanakan prosesi.

(Jemaat berdiri)
2.   PROSESI DENGAN NYANYIAN PROSESI
Penjelasan:
Prosesi adalah perarakan atau iring-iringan masuknya umat untuk menghadap Allah dalam kebaktian di awal kebaktian. Hal ini dilaksanakan dalam perarakan atau iring-iringan pelayan Firman, para pemimpin liturgi lainnya, para penatua/pendeta, dan para pelayan kebaktian (yang bukan pemimpin liturgy) ke ruang kebaktian. Dalam prosesi itu umat berdiri. Prosesi diiringi dengan nyanyian jemaat. Prosesi dilakukan dari pintu masuk utama, bukan dari arah samping mimbar.

Dalam kebaktian Minggu, urutan prosesi adalah sebagai berikut: penatua/pendeta (mewakili Majelis Jemaat) yang membawa Alkitab untuk diserahkan kepada pelayan Firman, pelayan firman, para penatua/pendeta, para pemimpin liturgy lainnya, dan para pelayan kebaktian.

Dalam kebaktian Peneguhan dan Pemberkatan Pernikahan, prosesi dilakukan juga bersama dengan kedua mempelai dan orang tua/wali mereka. Dengan mengacu kepada urutan prosesi dalam kebaktian Minggu, kedua mempelai diikuti oleh orang-tua/wali mereka berjalan di belakang pemimpin liturgy lainnya.

Catatan:
–   Alkitab yang dibawa oleh penatua (yang mewakili Majelis Jemaat) adalah Alkitab Mimbar. Dalam membawa Alkitab, sebaiknya penatua mengangkat Alkitab tersebut setinggi dada sehingga dapat terlihat oleh jemaat.

3.   VOTUM:
PL   : “Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan    bumi, yang kasih-setiaNya sampai selama-lamanya”.
J   : (Menyanyikan) Amin, amin, amin
Penjelasan:
Votum adalah ungkapan  “dalam nama Tuhan” (lihat Kol. 3:17) yang diucapkan oleh pemimpin liturgi. Ketika votum diucapkan, jemaat mengambil sikap tunduk.Votum dijawab umat dengan nyanyian “Amin”.

4.   SALAM
PL   : “Salam kasih karunia dan damai-sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara sekalian”.
J   :  Dan menyertai saudara juga!
Penjelasan:
Salam disampaikan oleh pemimpin liturgi kepada umat, dan dibalas  oleh umat kepada pemimpin liturgi. Dalam menyampaikan salam, pemimpin liturgi boleh mengangkat satu tangan (khusus yang berjabatan Pendeta). Jadi pemberian salam oleh pemimpin liturgi dibalas dengan ucapan “salam” dari umat.
       
      (Jemaat duduk)

5.   KATA PEMBUKA
PL   : “…………………………… Marilah kita membaca nas pembimbing yang diambil dari ……………………. “  (ayat-ayat dibaca secara bergantian dengan jemaat jikalau dimungkinkan)
Penjelasan:
Fungsi kata pembuka adalah untuk menyampaikan informasi tentang tema, tahun gerejawi, lalu membacakan secara bergantian nas pengantar kebaktian yang sesuai dengan tema khotbah. Tujuannya agar jemaat lebih disiapkan untuk memahami makna seluruh kebaktian yang sedang berlangsung.

6.   NYANYIAN JEMAAT
(Nyanyian yang sesuai dengan tema atau nas)
Penjelasan:
Fungsi dari nyanyian jemaat di tempat ini adalah nyanyian yang bersifat memuliakan, memuji dan mengagungkan nama Tuhan. Diharapkan nyanyian ini sesuai dengan tema atau nas pengantar kebaktian.

7.   PENGAKUAN DOSA
PL   : (berdoa)
Penjelasan:
Doa pengakuan dosa adalah doa pengakuan dosa di hadapan Allah yang mana umat mengakui  segala keterbatasan, kelemahan, kepapaan, dan ketidaksempurnaan manusia dan gerejaNya dalam melakukan kehendak Allah.

8.   NYANYIAN JEMAAT
(Nyanyian Pengakuan Dosa atau Kyrie)
Penjelasan:
Nyanyian pengakuan dosa pada prinsipnya merupakan pujian untuk menyatakan penyesalan dan permohonan untuk hidup dalam pertobatan, serta juga agar Tuhan mengaruniakan rahmatNya. Dalam nyanyian pengakuan dosa dapat menggunakan “Kyrie” (Tuhan kasihanilah), misalnya KJ. 42-44, NKB. 24-29, PKJ. 48-50, 306.

      (Jemaat berdiri)

9.   BERITA ANUGERAH
PL   : (Membacakan ayat-ayat Alkitab, diakhiri dengan pernyataan: “Demikianlah berita Anugerah dari Tuhan”)
J   : Syukur kepada Allah!
Penjelasan:
Berita anugerah merupakan pernyataan anugerah pengampunan dosa terhadap umat yang didasarkan pada karya penebusan Kristus di atas kayu salib.

Catatan:
–   Dalam kebaktian Minggu, salam damai dilakukan sesudah berita anugerah, sehingga tindakan bersalaman sebelum memasuki liturgi tidak perlu dilakukan lagi.
–   Dalam kebaktian Perjamuan Kudus, salam damai dilakukan sebelum pemecahan roti sebagai bentuk konkret dari bagian Doa Bapa Kami yang menyatakan: “Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.

10.   NYANYIAN JEMAAT
(Nyanyian Gloria)
Penjelasan:
Nyanyian Jemaat di sini merupakan nyanyian kesanggupan dari umat sebagai suatu sikap tekad iman untuk hidup benar sesuai dengan kehendak Allah. Itu sebabnya nyanyian jemaat di sini disebut pula nyanyian Gloria, karena umat bersedia menyatakan komitmen imannya untuk memuliakan Allah dalam seluruh hidupnya. Penggunaan nyanyian Gloria, misalnya KJ. 45-48, NKB. 30-31, 54; dan PKJ 51, 304. Di antara nyanyian “Gloria” tersebut jemaat diajak untuk mengucapkan “salam damai”. Arti dari salam damai adalah tindakan saling bersalaman di antara anggota jemaat sambil mengucapkan “Salam Damai!” kepada sesama anggota jemaat yang terdekat.

      (Jemaat duduk)
B.  PELAYANAN FIRMAN

11.   DOA PELAYANAN FIRMAN
PL   : (Mengucapkan doa untuk mohon pertolongan Roh Kudus dalam pelayanan firman, dan diakhiri dengan: “Kami berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus”)
J   : Amin
Penjelasan:
Doa pelayanan firman merupakan permohonan agar Allah mengaruniakan Roh KudusNya, sehingga umat dapat menyambut dan memberlakukan firman Tuhan tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Secara bersengaja liturgi GKI tidak lagi menggunakan istilah “doa epiklesis”. Karena doa epiklesis adalah doa permohonan agar Roh Kudus menerangi umat untuk mengerti makna sakramen Perjamuan Kudus. Jadi pada waktu pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus, doa pelayanan firman tersebut dapat disebut sebagai “doa epiklesis”.

12.   PEMBACAAN ALKITAB
a.   Bacaan Pertama (dari Perjanjian Lama)
PL   :   Bacaan diambil dari kitab ….. pasal…. ayat…. (kemudian membacakannya). Diakhiri dengan pernyataaan: “Demikianlah sabda Tuhan!”
J   :  Syukur kepada Allah!

b.   Antar Bacaan/Mazmur Tanggapan
PL   :   Marilah kita menanggapi firman Tuhan tersebut dengan membaca dari kitab Mazmur pasal … ayat …. (kemudian membacakannya).

c.   Bacaan Kedua (dari surat-surat para rasul)
PL   :   Bacaan diambil dari …. pasal …. ayat…. (kemudian membacakannya). Diakhiri dengan pernyataan: “Demikianlah sabda Tuhan!”
J   :   Syukur kepada Allah!

d.   Bacaan Ketiga (Injil)
PL   : Bacaan diambil dari kitab Injil Tuhan Yesus Kristus menurut …. pasal …. ayat …. Diakhiri dengan pernyataan: “Demikianlah Injil Yesus Kristus. Berbahagialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memelihara dalam kehidupannya. Haleluyah! atau Maranatha! atau Hosiana!”
J   : (menyanyikan) Haleluyah (3x) atau Maranatha (3x) atau Hosiana (3x) – sesuai tahun gerejawi.

Penjelasan:
Pada bagian pembacaan Alkitab yang terdiri dari 4 bacaan ini sebaiknya dilakukan secara bergiliran dengan penatua dan anggota jemaat yang terpilih dan terlatih, sehingga mereka dapat membawa jemaat untuk mengerti maksud dari firman Tuhan yang dibacakan. Untuk bacaan III (pembacaan Injil) sebaiknya dibaca oleh pelayan firman/pendeta yang berkhotbah. Daftar pembacaan Alkitab dalam kebaktian Minggu mengikuti “Revised Common Lectionary” yang dapat diakses dari internet, yaitu dari:
–   www.textweek.com
–   www.crescourcei.org/lection.html

13.   K H O T B A H
Penjelasan:
Khotbah merupakan pemberitaan firman Tuhan yang didasarkan pada kesaksian Alkitab yang adalah firman Allah. Untuk itu bahan khotbah leksionari ini harus didasarkan dari penafsiran yang komprehensif (utuh) dari 3 pembacaan Alkitab, yaitu dari Bacaan I, II dan III. Dalam hal ini Komisi Rancangan Khotbah GKI menerbitkan rancangan khotbah leksionari.

14.   SAAT HENING
(jemaat hening sejenak untuk meresapi firman Tuhan yang telah didengarnya ……)
Penjelasan:
Saat hening bertujuan memberi kesempatan umat untuk meresapi firman Tuhan yang telah didengarkan. Karena itu selama saat hening sebaiknya sama sekali tidak ada permainan alat musik, apalagi nyanyian dari Paduan Suara/Vokal Grup.

15.   PADUAN SUARA
Penjelasan:
Paduan Suara pada prinsipnya merupakan nyanyian jemaat dan mengarahkan umat agar dapat memuliakan Allah dalam bentuk nyanyian selama kebaktian berlangsung. Karena itu fungsi Paduan Suara haruslah mendukung unsur-unsur liturgi. Apabila tema atau isi lagu dari Paduan Suara tersebut mendukung pemberitaan firman sebaiknya nyanyian tersebut dinyanyikan setelah khotbah dan saat hening. Tetapi apabila tema dan isi lagu sesuai dengan pengakuan dosa, sebaiknya dinyanyikan setelah doa dan nyanyian pengakuan dosa. Karena itu pemimpin paduan suara harus mempelajari terlebih dahulu tema-tema khotbah, atau tujuan dari nyanyian yang akan dinyanyikan oleh Paduan Suara/Vokal Grup.

(Jemaat berdiri)

16.   PENGAKUAN IMAN
PL   : Marilah kita bersama dengan umat Allah di masa lalu, masa kini, dan masa depan mengingat Pengakuan iman pada baptisan kita menurut Pengakuan Iman Rasuli.
PL+J   : Aku percaya …….
Penjelasan:
Pengakuan iman merupakan pernyataan bersama umat untuk mengingat kembali janji baptis-sidi yang pernah diikrarkan. Karena itu pengakuan iman dinyatakan dengan berdiri tegak dan khidmat, yang mana kedua tangan dapat dilipat seperti saat berdoa.

       (Jemaat duduk)   
 
17.   DOA SYAFAAT
PL   : (mengajak jemaat menaikan doa-doa syafaat, dan diakhiri dengan doa yang diajarkan oleh  Tuhan Yesus, yaitu “Doa Bapa Kami”)
Penjelasan:
   Doa syafaat merupakan perwujudan imamat am orang percaya dalam bentuk doa umat yaitu untuk mendoakan pergumulan dunia agar Allah memulihkan segala yang rusak, sehingga kasih, keadilan dan kebenaranNya dapat ditegakkan kembali. Selain itu juga berfungsi untuk mendoakan agar umat diberi kekuatan dan penghiburan di tengah-tengah pergumulan mereka. Dalam hal ini doa syafaat tidak dapat digantikan oleh Doa Bapa Kami. Sebaiknya setelah doa syafaat, umat diajak untuk menaikkan Doa Bapa Kami.

C.  PELAYANAN PERSEMBAHAN

18.   NAS PERSEMBAHAN
PL   : (mengajak jemaat dengan nas anjuran persembahan)
Penjelasan:
Nas persembahan merupakan ajakan persembahan agar umat mengungkapkan rasa syukur atas pemeliharaan, kasih dan anugerah Allah di dalam kehidupan mereka.

19.   NYANYIAN JEMAAT
(sementara jemaat menyanyikan nyanyian persembahan, para pelayan mengumpulkan persembahan)
Penjelasan:
Dalam nyanyian persembahan ini, umat menyatakan sukacita dan syukur kepada Allah. Karena itu bentuk nyanyian persembahan mencerminkan dan mengungkapkan sukacita dan ucapan syukur umat.

      (Jemaat berdiri)

20.   DOA PERSEMBAHAN
PL   : (mengucapkan doa persembahan yang diakhiri dengan pernyataan “Kami berdoa di dalam  nama Tuhan Yesus Kristus”).
J   : Amin
Penjelasan:
Sikap jemaat berdiri ketika kantong-kantong persembahan dibawa ke depan mimbar. Hal ini menjadi tanda bahwa jemaatlah yang mengantarkan persembahannya kepada Tuhan. Setelah itu umat diajak untuk menaikkan doa persembahan.
Catatan:
Khusus pada waktu melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus, selain kantong-kantong persembahan di bawa ke depan mimbar, para penatua juga membawa alat-alat sakramen Perjamuan Kudus untuk diserahkan kepada Pendeta selaku pemimpin liturgi kebaktian. Jadi urutan prosesinya sebagai berikut: penatua yang membawa alat-alat sakramen Perjamuan Kudus, kemudian barulah para petugas yang membawa kantong persembahan.

D.  PENGUTUSAN

21.   NYANYIAN JEMAAT
(Nyanyian Pengutusan)
Penjelasan:
Setelah doa persembahan umat tidak perlu diajak kembali menyanyikan nyanyian persembahan. Sebab setelah doa persembahan, umat yang masih di dalam posisi berdiri diajak untuk menyanyikan nyanyian pengutusan. Tema nyanyian pengutusan sedapat mungkin mencerminkan tema pemberitaan firman sehingga jemaat didorong dan dimotivasi untuk mengingat dan melakukan firman Tuhan tersebut di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

22.   PENGUTUSAN
PL   : Arahkanlah hatimu kepada Tuhan
J   : Kami mengarahkan hati kami kepada Tuhan
PL   : Jadilah saksi Kristus
J   : Syukur kepada Allah
PL   : Terpujilah Tuhan
J   : Kini dan selamanya

Penjelasan:
Amanat pengutusan merupakan panggilan kepada umat untuk mengarahkan hati mereka kepada Tuhan sebagai saksi-saksi Kristus.

23.   BERKAT
PL   : (mengucapkan berkat dari Rom. 15:13, atau dari: Bil. 6:24-26)
J   : (menyanyikan) Haleluyah (5x), Amin (3x) atau Maranata (5x), Amin (3x) atau Hosiana (5x), Amin (3x) – sesuai tahun gerejawi.
Penjelasan:
Berkat pada akhir kebaktian diucapkan oleh pemimpin liturgi yang adalah pendeta dengan mengangkat kedua tangannya. Pemimpin liturgi yang tidak/belum berjabatan pendeta mengucapkan berkat dengan mengganti kata ganti orang kedua, yaitu “kamu/engkau” dengan kata ganti orang pertama “kita”, tanpa disertai tindakan mengangkat tangan.

24.   SAAT TEDUH
(Setelah saat teduh, bel dibunyikan 3x)

25.   WARTA LISAN

26.   PROSESI KELUAR

Catatan:
–   Sikap jemaat untuk berdiri dan duduk selama kebaktian berlangsung dilakukan secara spontan tanpa ajakan dari Pemimpin Liturgi.
–   Tanggapan/respon jemaat sebagaimana dinyatakan dalam bentuk rumusan liturgi dilakukan spontan.
–   Mimbar utama memiliki fungsi untuk pemberitaan firman Tuhan. Karena itu pemimpin liturgi yang bertugas dalam kebaktian seperti membaca Bacaan I, Antar Bacaan, Bacaan II, Pengakuan Iman Rasuli/Konstantinopel,  Nas Persembahan, Doa Persembahan tidak menggunakan mimbar utama, tetapi mereka menggunakan mimbar lain yang umumnya lebih kecil.

dikutip dari: Cyber GKI





Jika aku seorang presiden

10 03 2009

Ini dia ide gila dari beberapa anak XII IPS 4 dan teman-teman yang lain. Katanya, saya disuruh mencalonkan diri jadi Presiden RI nanti kira-kira tahun 2030 atau 2040 mungkin. Nah, namanya berandai-andai. Ini dia susunan kabinet yang akan saya susun jika saya memang jadi presiden, dengan tentunya, disusun oleh teman-teman saya yang “kapabel” dalam urusan masing-masing:

Presiden Republik Indonesia: Matthew Hanzel
Wakil Presiden Republik Indonesia: Jessi Catherine Prihadi

Menteri Koordinator Bid. Keamanan: Ari
Menteri Koordinator Bid. Kesejahteraan dan Perekonomian: Christine Santoso

Menteri Pendidikan: Nita Azalea
Menteri Hiburan: Kevin Tan
Menteri Luar Negeri: Pinka Wijaya Pangestu
Menteri Dalam Negeri: Leonard Davin
Menteri Urusan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Elbert Ganda
Menteri Urusan Kebudayaan dan Seni: Michelle Jennifer
Menteri Hukum, Kehakiman, dan HAM: Ganesha Chrysta Dhewie
Menteri Urusan Kepariwisataan: Astrid Febriska
Menteri Urusan Pemberdayaan Wanita: Earlene
Menteri Urusan Peningkatan Ekonomi Riil, Usaha Koperasi, Mikro, Kecil, Menengah: Felicia Febry

gimana, kira-kira?





“Anjing”?

10 03 2009

Saya sedang iseng-iseng saja, melawat ke situs http://www.kickandy.com. Dasar ada yang menggoda, katanya kalau sedang ada gundah gulana, boleh chat dengan Mas Andy. Saya iseng-iseng saja login. Padahal, tidak ada Mas Andy di situ (sedang tidak ada maksudnya). Saya tidak berbicara apa-apa, namun lihat, beberapa orang sedang berdiskusi sebagai berikut (identitas saya hilangkan):

[14:40:50] XXX: klo ma pacar ga boleh maki2…YYY

[14:41:13] XXX: ya elah masalah sepele itu sich YYY…..

[14:41:39] XXX: masa harus putus cuma gara2 itu…c
[14:41:39] AAA: cuman sepele sih , na
[14:41:43] YYY: iya nich rsanya skt..bgt..rsnya hrga dri udh hncur..hikz..hikz..
[14:42:04] AAA: emang cara banguninnya gimana , na
[14:42:08] XXX: ha…ha…harga diri yg bagai mana ina…??
[14:42:15] YYY: mslhnya emg sple XXX..tp yg jd mslsh makian nya…
[14:42:38] XXX: qt liat dulu makian gmn???
[14:42:49] XXX: seperti apa makian nya????

[14:43:05] YYY: y hrg dri gw sbgai cew dunkz..d maki n d usir scr tdk hormat..

[14:43:39] YYY: dia ngumpat anjing k aq..
[14:43:51] XXX: YYY ..maki2nya bgmn?? trus ngusirnya gmn???
[14:43:54] YYY: AAA…km bk bgt…

[14:44:31] AAA: aku kasihan YYY sebagai cewek diinjak injak harga dirinya , XXX
[14:44:54] YYY: dia blg anjing km..smbl mlotot mpe mtanya mo jtuh trs bntk2 nyuruh q plg…
[14:44:59] XXX: dilihat dulu dunk ujung permasalahannya…

[14:46:03] XXX: YYY…cerita dulu dunk mungkin qm ada maslah sebelumnya ke dy…
[14:46:24] YYY: mpe skrg dia blm call aq..cm tnya aq dmn lwt adknya yg 1 kost sm aq…
[14:46:44] YYY: d jgj…
[14:47:18] XXX: bisa ja ina…dy cemburu sebelumnya….
[14:47:22] YYY: kynya g ad mslh..malh aq smpt mskin gulai ikan bwt dia..
[14:48:17] XXX: gulai.???
[14:48:37] YYY: dia emg cmburuan tp km lg g ad problm org k 3..
[14:49:10] XXX: atau mungkin dia itu perangainya kasar ….YYY????

Wow! Begitu mudahkah seseorang mengeluarkan umpatan ke orang lain masa sekarang? Semudah itu berkata ‘anjing’, bahkan dalam kasus ini, seorang menghina pacarnya sendiri, seorang wanita, dengan panggilan ‘anjing’? Tak heran si wanita (YYY) sedang kalap di forum chat itu. Dia sedang merasa terhina.

Begitulah, di masa sekarang rasa-rasanya kata ‘anjing’ dan kata-kata sejenis bukan lagi kata-kata yang sekedar menurunkan harkat dan martabat seseorang. Tapi sudah dianggap biasa sebagai khazanah sapaan dari bahasa Indonesia sehari-hari.