Pemilu Cermin Hidup Bangsa? (part one)

16 03 2009
Surat suara Pemilu 2009 (Dapil DKI Jakarta II)

Surat suara Pemilu 2009 (Dapil DKI Jakarta II)

Hari ini adalah hari dimulainya Kampanye Terbuka untuk Pemilihan Umum 2009 (tepatnya Pemilihan Anggota Legislatif untuk nanti tanggal 9 April 2009). Baru mulai satu hari, belum satu hari, tapi kekacauan rasanya sudah di hadapan mata.

Lihat di stasiun TV Metro TV. Sedang dilaksanakan ‘Deklarasi Kampanye Damai Parpol Peserta Pemilu 2009’. Ya, sebuah deklarasi, di mana para ketua partai berjanji (ketuanya, bukan partainya) untuk melaksanakan kampanye damai, santun, bermartabat, dan mengedepankan pendidikan politik – setidaknya begitu kata mereka. Baru tiga detik setelah janji itu diucapkan, kekacauan terjadi: peserta acara tersebut, sekitar 50 orang dari setiap partai, kira-kira 2.200 orang ++ yang hadir, semua maju ke depan panggung, berteriak-teriak, kacau sudah. Dan, MC-nya, Meutia Hafidz – yang merupakan news anchor Metro TV dan salah satu caleg dari partai yang lumayan besar – sudah lelah berteriak-teriak, “Ayo saudara-saudara, mari kita ciptakan kampanye yang damai, saya mohon kerja samanya,” atau, “Saudara-saudara, tolong turun dari atas panggung, silakan yang tidak berkepentingan kembali ke tempatnya.”

Ya, itulah cerminan paling jelas dari kehidupan berbangsa saat ini. Kekacauan, berantakan, seenaknya sana-sini, tanpa tahu aturan dan ketertiban. Ya, itulah cermin yang sangat jelas. Maaf, kalau ingin sedikit membandingkan, kalau lihat pemilu di negara-negara lain, di mana ketertiban adalah hal yang paling pokok, dijaga oleh aparat yang tegas, pengaturan yang jelas, bisa menghindari kekacauan yang mungkin terjadi. Ya, rasanya memang ada yang salah, sehingga kita tidak bisa belajar, atau tidak mau belajar, sesuatu yang lebih baik di pemilu ini. Padahal, dalam pemilu ini kedewasaan kita sebagai bangsa yang demokratis sedang diuji, apakah kita sudah cukup dewasa sebagai sebuah negara yang demokrasinya masih bayi. Kenyataannya, belum. Kita masih seperti anak-anak yang menggigit ‘mpeng’, masih terlalu reaktif pada situasi, masih – maaf – sedikit menggunakan pikiran dan akal sehat kita dalam berpolitik. Ya, kita belum dewasa.

Inilah satu cermin kehidupan berbangsa kita, terlihat dari pemilu yang akan segera diadakan dalam kira-kira 20 hari lagi. Kacau, dan kita belum belajar.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: