Kepedulian yang besar

10 03 2009

Ya, dunia masa sekarang terkungkung dalam egoisme dan egosentrisme yang tinggi, tak ada seorangpun dari kita yang bisa berbohong atas fakta tersebut. Di tengah semakin sempitnya pikiran orang, beberapa di antara orang-orang yang beredar di masyarakat, masih ada yang mau mendengarkan bisikan nuraninya untuk melihat dan mengulurkan tangannya untuk orang lain.

Bagi saya pribadi, seseorang dapat berbicara dalam tiga bahasa ketika ia lahir: yang pertama tentu bahasa ibunya. Yang lahir di Indonesia tentu akan mampu berbahasa Indonesia, yang lahir di Amerika Serikat berbahasa Inggris, dan sebagainya. Kedua dan ketiga, adalah suara hati. Masalahnya, ada dua macam suara hati: ada yang berbicara sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan, bagaimana bertindak jahat, bertindak melawan kebaikan, dan sebagainya; ada suara hati yang berbisik untuk kebaikan, bernapas untuk kebajikan. Masalahnya, mana yang kita ingin dengar, betul toh?

Baru saya beberapa menit yang lalu saya menghabiskan sebuah buku bertajuk “Andy’s Corner-Buku Kedua Andy F. Noya”. Ya, tentu kita tahu, Andy Flores Noya, pembawa acara talk show dengan tajuk Kick Andy ini mencurahkan banyak kisah dalam buku ini. Beberapa di antaranya, sangat-sangat menyentuh, menjelaskan betapa masih ada orang yang masih mau menghembuskan napasnya demi orang lain.

Satu yang paling mengesankan, kisah seorang yang kakinya buntung sebelah, tapi tertawa lebih mudah dari banyak di antara kita, bahkan mau bangkit dan membuatkan kaki palsu – untuk dirinya sendiri, dan banyak orang lain yang membutuhkannya. Dengan kecepatan 3 kaki palsu per harinya, kini dia menggugah banyak orang di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam karya mulia yang dikerjakannya ini.

Lihat! Masih ada orang yang tidak mempedulikan kekayaaan dan kejayaan semu, dan mementingkan sesuatu yang lebih bisa membuat orang tersenyum lebar. Saya ingin bertanya, mana yang lebih anda sukai: mendapatkan segepok uang, atau melihat seseorang yang depresi dan tanpa harapan karena kehilangan sebelah kaki, kemudian melihat anda membawakan sebuah kaki palsu dan anda berkata, “Saudaraku, ini sebuah kaki palsu untukmu, bangkitlah karena aku tahu kamu bisa!” Senyum mana yang lebih lebar, jika dibandingkan dengan tangisan bahagia tanpa henti dari orang yang kedua?

Saya juga teringat dengan soal writing pada saat mengambil tes SAT, bulan Desember silam. Dalam tes tersebut diberikan soal, apakah seseorang menunjukkan kepedulian pada orang lain hanya demi keuntungan dirinya sendiri? Bagi saya, ada dua tipe orang dalam posisi ini, dan bagi saya, dua-duanya sama-sama mengambil keuntungan dari kepeduliannya. Satu, orang yang mengambil keuntungan material dan kebendaan; kedua orang yang mengambil keuntungan secara rohani, sebuah rasa puas dan kebahagiaan pribadi karena membantu orang lain, a kind of self esteem.

Tidakkah kita mesti lebih peduli di masa sekarang?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: